welcome to my blog

Selasa, 10 Januari 2012

Takdir Sajadah

 
TAKDIR SAJADAH
Tertunduk khusyuk dalam sujud
Terhembus nafas-Mu oleh sujud
Mengalir dalam raga dan jiwa oleh sujud
Biarkan semua hilang menuju-MU  dalam sujud
Di atas sajadahku
jemariku berbicara
Di atas sajadahku
batin ku berbicara
Di atas sajadah ku
raga ku bergetar
Di atas sajadahlah
Tetesan mataku berbicara
Jatuh dalam pelukan sajadahlah
semua kisahku tangisanku
Melalui sajadalah Engkau lihat kisahku
Dan lewat sajadalah
 ku tuliskan keluh kesahku
Dan lewat sajadah
Kendaraanku tuk menuju cahayamu
Inilah takdir sajadahku

Senin, 26 Desember 2011

PEMBUTAN NATA DE COCO



MEMBUAT NATA DE COCO


CARA PEMBUATAN BIBIT NATA DE COCO
ALAT DAN BAHAN           :
1. Buh nanas yang masak 2-3 buah
2. Gula pasir 250 gram
3. Air akuades 500 ml
4. Parut atau lumpang porselin
5. Saringan plastik atau kain bersih
6. Timbangan Roti
7. Baskom dan sendok makan
8. Stoples
CARA KERJA
1. Buat nanas yang sudah masak dikupas dan dicuci bersih, dipotong – potong kecil dan dilumatkan dengan lumpang porselin.
2. Hancurkan nanas, kemudian diperas sampai sarinya habis, tinggal ampasnya saja. Ampas tersebut dicampur dengan air dan gula pasir dengan perbandingan nanas : air akuades : gula pasir = 6 : 3 : 1. Campuran ini diaduk secara merata, kemudian masukkan dalam stoples. Tutup dengan kertas koran dan peram selama 2-3 minggu ( smpai terbentuk lapisan putih di atasnya ). Larutan yang diperoleh, selanjutnya digunakan sebagai bahan penginokulasian dalam pembuatan nata de coco.
CARA PEMBUATAN NATA DE COCO
ALAT DAN BAHAN
1. Baskom plastik 3 buah                                               7. Gula pasir 100 gram
2. Kertas koran secukupnya                                        8. Air akuades 500 ml
3. Gelas ukur 500 ml                                                        9. Cuka bibit 50 ml
4. Pengaduk kayu 2 buah                                              10. Tauge kacang hijau 100 gram
5. saringan plastik                                                           11. Starter berupa bibit Acetobacter xylinum 100 ml
6. Air kelapa 1 liter
CARA KERJA
1. Didihkan air kelapa sebanyak 1 liter, kemudian biarkan sampai dingin, tambahkan 50 gram gula pasir sambil diaduk dan saringlah.
2. Rebuslah tauge dengan perbandingan 1 kg tauge untuk 3 liter air, jadi kita gunakan 100 gram tauge untuk 300 ml air akuades dan saringlah, ambil airnya saja dan biarkan dingin ( air tauge ini berfungsi sebagai penyedia kebutuhan nitrogen bagi bakteri ).
3. Setelah air kelapa dan air tauge dingin siapkan baskom dan tuangkan air kelapa + gula pasir + air tauge sambil diaduk dan tambahkan cuka bibit sebanyak 20 ml sambil terus diaduk.
4. Setelah campuran nomor 3 betul-betul dingin barulah tuangkan starter berupa Acetobacter xylinum dengan perbandingan 100 ml untuk 1 liter air kelapa.
5. Setelah campuran itu selesai, tuangkan dalam baskom yang permukaannya lebar atau nampan ( besi dapat juga kotak plastik ) dan jangan terlalu banyak, ratakan 1 liter untuk 2 baskom dengan diameter kira – kira 24 cm. Kemudian, tutuplah dengan menggunakan kertas koran dan jangan sampai debu atau kotoran masuk.
6. Setelah ditutup biarkan ( simpan ) di tempat yang sejuk, jangan terkena sinar matahari langsung selama kira – kira dua minggu sampai satu bulan.
7. Selama masa penyimpanan jangan sekali – kali nampan tersebut digoyangkan karena kalau ada gerakan sedikit saja, nata de coco akan turun dan nantinya tidak baik, karena akan nampak berlapis – lapis.
8. Setelah 2 – 4 minggu panenlah dengan cara menuangkan sisa air yang terdapat pada baskom. Pisahkan dan simpanlah karena ini merupakan bibit bakteri yang masih dapat digunakan untuk pembuatan nata de coco lagi.
9. Setelah dipisahkan dengan air sisa maka potonglah seperti dadu, kemudian cucilah dengan air bersih dan rendamlah selama satu hari ( sehari semalam ). Keesokan harinya dicuci lagi dan cicipilah sehingga rasa cuka ( asamnya ) hilang, barulah direbus dengan air gula atau air sirup sampai betul – betul masak dan manis rasanya.
10. Nata de coco siap disantap, dan dapat digunakan sebagai campuran minuman, ditmbahkan pada pembuatan agar – agar atau langsung dimakan dicampur dengan es.

Sabtu, 04 Juni 2011

Dampak Radiasi Nuklir

Hasil penelitian terbaru membantah keyakinan selama ini bahwa dampak radiasi nuklir tidak banyak mempengaruhi genetika manusia. Justru, radiasi nuklir ternyata menunjukkan tren peningkatan jumlah kelahiran bayi laki-laki.


Hagen Scherb dan Kristina Voigt, peneliti dari Helmholtz Zentrum, Munchen, Jerman menyebutkan bahwa mereka menemukan fakta bahwa radiasi dari uji coba bom nuklir serta kecelakaan Chernobyl telah memberikan efek negatif jangka panjang bagi warga sekitar khususnya pada rasio kelahiran bayi laki-laki dan perempuan.

Pada penelitian, mereka menemukan tingginya kelahiran laki-laki dibanding perempuan di Eropa dan Amerika Serikat antara tahun 1964 dan 1975. “Kemungkinan penyebabnya adalah paparan radiasi dari uji coba bom nuklir sebelum uji coba seperti itu dilarang pada tahun 1963,” sebut kedua peneliti, seperti dikutip dari TGDaily, 31 Mei 2011.

Uji coba seperti itu, sebut peneliti, mempengaruhi banyak populasi manusia setelah jeda beberapa waktu.

Dari penelitian, mereka juga menemukan lonjakan signifikan kelahiran bayi laki-laki di Eropa pada tahun 1987 atau setahun setelah bencana Chernobyl. Tren tersebut tidak terjadi di Amerika Serikat yang tidak banyak terpengaruh oleh radiasi Chernobyl.

Ketidakseimbangan jumlah kelahiran laki-laki dan perempuan juga tampak signifikan di antara populasi manusia yang tinggal dalam radius 35 kilometer dari fasilitas nuklir yang ada di Jerman dan Swiss.

“Hasil penelitian kami membantah keyakinan selama ini bahwa efek turun temurun akibat radiasi nuklir belum terdeteksi pada populasi manusia,” sebut kedua peneliti. “Kami menemukan bukti kuat bahwa adanya gangguan genetik akibat radiasi tersebut,” ucap mereka.


SUMBER : VIVANEWS.COM

Jumat, 03 Juni 2011

Radiasi Telepon Seluler Pemicu Kanker Otak

- Sebuah panel ilmuwan terkemuka mengungkapkan bahwa radiasi dari telepon seluler (ponsel) bisa menjadi agen penyebab kanker otak. Para ahli menempatkan ponsel dalam kategori benda yang memiliki risiko bagi kesehatan, sama dengan pestisida, DDT, knalpot bensin, dan kopi.



Menurut kantor berita Associated Press (AP), temuan ini diumumkan Selasa, 31 Mei 2011 di Lyon, Prancis, oleh Badan Internasional untuk Penelitian Kanker setelah melakukan sejumlah riset. Badan ini berada di bawah arahan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Setelah penelitian bersama selama seminggu penuh, para ilmuwan menemukan tipe radiasi elektronagnetik di telepon seluler, microwave, dan radar. Menurut mereka, ada bukti bahwa radiasi telepon seluler bisa memicu dua tipe kanker otak. Namun bukti itu perlu diteliti lebih lanjut.

"Kami menemukan beberapa benang merah, bukti yang mengungkapkan pada kami bagaimana kanker bisa terjadi. Namun masih ada beberapa hal yang belum diketahui dan harus dipastikan,"kata anggota panel, Jonathan Samet dari Universitas Southern California, seperti dimuat AP, Rabu 1 Juni 2011.

Sementara, anggota panel yang lain, Kurt Straif mengatakan, paparan tertinggi radiasi adalah saat ponsel digunakan untuk menelepon. "Untuk penggunaan pesan pendek (SMS) atau menggunakan perangkat hands-free akan memperkecil paparannya."

Namun, meski 'berpeluang karsinogen (zat penyebab kanker)' itu tak berarti ponsel secara otomatis menyebabkan kanker. Dan sejumlah ilmuwan pun yakin, temuan ini tak akan lantas mengubah kebiasaan orang.

"Apapun dimungkinkan menjadi karsinogen," kata Donald Berry, profesor biostatistik di MD Anderson Cancer Center di Universitas Texas. Ia tak terlibat dalam penelitian ini. "Ini bukan sesuatu yang saya khawatirkan dan tak akan menghentikan saya menggunakan telepon genggam."

Karena ponsel sangat populer, mungkin mustahil bagi para ahli untuk membandingkan antara pengguna ponsel yang menderita tumor otak dengan orang yang tidak menggunakan perangkat namun memiliki penyakit yang sama. Apalagi, menurut survei tahun lalu, jumlah pelanggan ponsel di seluruh dunia telah mencapai lima miliar, atau hampir tiga perempat dari populasi global.

Ponsel mengirimkan sinyal ke menara terdekat menggunakan frekuensi gelombang radio -- dengan bentuk yang sama dengan gelombang radio FM dan microwave. Namun radiasi dari ponsel tidak secara langsung merusak DNA dan berbeda dengan tipe radiasi yang lebih kuat seperti sinar X dan radiasi ultraviolet.

Dalam level tinggi, gelombang dari ponsel bisa memanaskan jaringan tubuh. Namun belum dipastikan, apakah itu bakal merusak sel tubuh manusia.

Beberapa ahli menyarankan pengguna ponsel mengenakan headset atau earpiece nirkabel jika khawatir dengan dampak yang ditimbulkan alat itu bagi kesehatan.

Menurut Otis Brawley, kepala kesehatan American Cancer Society, mengimbau agar orang-orang lebih mengkhawatirkan ancaman nyata ketimbang ponsel. "Meski ponsel bisa menyebabkan tumor otak, namun itu membunuh orang jauh lebih sedikit daripada kecelakaan lalu lintas misalnya," kata dia.

Meski demikian ia menyarankan pembatasan ponsel untuk anak-anak. Sebab, otak mereka masih berkembang.


SUMBER : VIVANEWS.COM

the movies

Loading...

Title